PILKADA DKI

Assalamu’alamu’alaikum.

Hehe gw baru balik nih tanggal 29 kemaren, pas dari stasiun kereta mau pulang ke rumah gw, gw liat buanyak bgt yak spanduk tentang pilkada, hmmm analisis gw sebagai mahasiswa nih(cieeee gw), kayanya bakalan ada pertarungan panas antara bang adang dan fauzi bowo.

Sebagai warga dki jakarta, sekaligus mahasiswa gw gak bisa diem aja dong nunggu ampe proses pilkada 8 agustus berlangsung, hmm gw harus mesti kudu tepat milih gubernur yang tepat nih. Mulai deh gw baca profilnya, track recordnya,and pokoknye everything about PILKADA DKI.

Sory ye gak maksud sih blog ini buat jadi ajang promosi pilkada, cuma gw mesti kritis.

Gw baca2 berita sih kalo katanya bang adang dikeroyok ama 20 partai laen, wuih kasian bgt yak(hehe). Gw jadi berfikir sehebat itukah bang adang ampe dikeroyok begitu, lalu mulai deh naluri kritis gw jalan. Waw ternyata banyak bgt kecurangan yang terjadi dalam proses pilkada dki, yah mulai dari proses pendaftaran pemilih, masa ada orang yang dah jadi mayat(dah meninggal maksudnya gitu loh coy), malah kedaftar sebagai pemilih, dah gitu adalagi yang satu nama punya 5 hak pilih(5 kali nyoblos), wuiiih enak bgt tuh, curang bgt tuh orang yak.

Hmm wah gw gak bisa tinggal diam nih, ada yang mesti gw lakuin, yah sekecil2nya lewat blog ini lah!!. Hmm mulai deh gw simpati ama bang adang, dan ternyata gw benar. setelah gw cek komentar tentang bang adang, gw makin mantep buat milih bang adang. Ini nih gw kasih beberapa komentar, diantaranya dari ahmad dani-musisi dewa, artis rima melati, pengacara dll. simak aja ya.

Hotma. P.D. Sitompoel. SH.

Pengacara
Sehubungan dengan akan diterbitkannya Memoar Bapak Komjen Pol. Drs Adang Daradjatun, dalam rangka Ulang Tahun Beliau ke 57 dan masa bakti beliau di Kepolisian selama 33 tahun, yaitu tepatnya pada tanggal 13 Mei 2006, bersama ini kami sampaikan pengalaman kami dengan beliau sejak kurang lebih dua puluh tahun yang lalu.

Saya Hotma P.D. Sitompoel, SH, sekarang memimpin Kantor Hukum Profesional Hotma Sitompoel dan Assosiates dan Lembaga Bantuan Hukum Mawar Saron yang memberikan bantuan kepada mereka yang tidak mampu/miskin.

Saya mengenal beliau waktu saya bekerja sebagai Pengacara/Pembela Umum di Lembaga Bantuan Hukum di bawah Pimpinan Bapak Adnan Buyung Nasution, SH.

Pada waktu itu sekitar tahun 1980-an saya mendampingi klien LBH, seorang yang tidak mampu/miskin yang ditahan di Polsek Kebayoran Lama dan beliau adalah Kapolseknya. Saya belum mengenal beliau dan beliau belum mengenal saya, namun beliau menerima saya dengan baik dan ramah.

Saya sangat terkesan, karena pada waktu polisi-polisi masih galak-galak apalagi kepala-kepala/pimpinan-pimpinannya. Apalagi berhadapan dengan pengacara-pengacara muda yang belum berpengalaman, apalagi mendampingi klien yang miskin dan dibela secara prodeo/gratis.
Saya pada waktu itu masih muda mendampingi tersangka yang miskin. Namun beliau menerima saya secara profesional, baik, ramah, dan sangat memperhatikan argumen-argumen hukum yang saya sampaikan.

Sikap dan profesionalisme beliau yang pada waktu itu juga masih muda, meninggalkan kesan mendalam bagi saya, bahwa polisi yang seperti inilah yang dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia, polisi yang menjunjung tinggi Tribrata dan Catur Prasetya, mengayomi dan melindungi masyarakat. Tidak membeda-bedakan pelayanan di dalam menghadapi pengacara muda yang belum berpengalaman dan mendampingi kliennya yang miskin.

Pengalaman saya selanjutnya, kebetulan rumah saya berjarak hanya 50 meter dari Polsek Kebayoran Lama. Jadi saya sering mampir berbincang-bincang dengan beliau di Kantor Polsek Kebayoran Lama di luar jam kerja. Beliau adalah sosok Komandan/pimpinan yang sangat bertanggung jawab dan sangat memperhatikan anak buahnya. Sehingga tidaklah heran perjalanan karier beliau mencapai kedudukannya sebagai Wakapolri. Sampai saat ini kami tetap berhubungan baik, dan kesan pertama kami terhadap beliau pada puluhan tahun yang lalu, tetap tidak berubah.
Dalam usia beliau sekarang ini, kami percaya beliau masih akan memberikan kontribusi dan darma baktinya yang terbaik, baik bagi Polri khususnya maupun bagi bangsa dan negaranya.
Dirgahayu Kang Adang, sukses selalu.

Ahmad Dani

Musisi

Terus Maju Jenderal…! Tanggal 17 April 2005, adalah awal saya mengenal lebih dalam pribadi Komisaris Jenderal Polisi Adang Daradjatun. Walaupun sudah beberapa kali bertatap muka, namun hal tersebut sebatas tegur sapa yang dilanjutkan meminta saya untuk menyanyi satu, dua lagu.

Pertemuan pada hari Minggu, 17 April 2005 merupakan salah satu saat-saat penting dalam catatan sejarah hidup saya. Setelah kejadian Panggung Eksklusive Trans TV yang berbuntut ribut, antara saya dan Front Pembela Islam, tekanan dan teror FPI baik secara langsung maupun lewat media massa benar-benar membuat saya kurang tidur.

Kondisi tersebut memaksa saya dan kawan-kawan untuk terus mengatur berbagai siasat dalam menghadapi tekanan dan teror dari FPI tersebut. Dan salah satunya adalah merapat ke Komjen Adang Daradjatun.

Setelah mengunjungi Gus Dur, dan beberapa pihak yang saya anggap memiliki kedekatan dengan FPI. Tujuannya adalah, bagaimana membuat FPI dan kawan-kawannya bisa mengerti dan luluh, bahwa apa yang saya lakukan pada saat pentas di Trans TV tersebut adalah murni kecelakaan yang tidak disengaja.

Kenyataan yang ada, FPI tetap maju menggempur dengan melaporkan saya ke pihak kepolisian dengan pasal yang sangat mengerikan. Saya dituduh menistakan agama Islam, sesuai dengan isi Pasal 156A KUHP. Ancaman hukuman yang diatur di dalam pasal tersebut tidak main-main. Pasal tersebut terbukti telah menyeret Arswendo Atmowiloto, pimpinan Tabloid Monitor masuk ke penjara.

Belajar dari sejarah yang ada, pada akhirnya membuat saya harus rajin mendatangi rumah Komjen Adang Daradjatun. Mengingat posisinya sebagai orang nomor 2 di institusi Kepolisian Negara Republik Indonesia, pastilah Jenderal Polisi Bintang Tiga ini akan membuka lebar tangannya untuk membantu saya.

Harapan yang membuncah di dada, ternyata meleset, dengan senyum khasnya dia berkata: Sudahlah, kamu mengalah saja. Masak kamu gak paham dengan maunya mereka? Pemahaman Pak Adang tentang kemauan FPI ternyata hampir sama dengan pihak-pihak yang saya temui. Upaya KKN yang saya rancang saat itu gagal. Polisi yang satu ini tidak mempan dirayu. Keengganan beliau untuk membela saya cukup membuat saya was-was. Namun saya punya keyakinan, bahwa saya di pihak yang benar. Sangat yakin seyakin-yakinnya, Tuhan pasti membuka jalan buat saya.

Dan benar, doa saya didengar oleh Tuhan. Dua hari kemudian, saya ditilpon Bu Nunun Daradjatun yang merasa prihatin karena setiap hari mengamati tayangan infotainment yang memuat statement Habib Riziq. Kami cukup dekat setelah bekerjasama dalam pentas amal untuk korban Tsunami di Hotel Borobudur beberapa waktu lalu.

Dengan tulus, pasangan suami-istri tersebut mengatur pertemuan dengan saya di D Lounge yang terletak di Jl. Gunawarman. Dengan adanya pertemuan itu, terus terang saya berharap pak Adang dapat turun membantu saya di Kepolisian.

Tanpa basa-basi (yang memang sudah menjadi gayanya) Pak Adang menilpon langsung Kapolda Metro Jaya. Saya sangat terkejut mendengar beliau berkata, Man (maksudnya Kapolda Firman Gani), tolong saudaraku Ahmad Dhani dibantu sewajarnya. Besok pagi kalau ada waktu, tolong diterima menghadap. Dari sekilas pembicaraannya dengan Irjen Pol.Firman Gani yang sedang menangani kasus saya dengan FPI, terlihat pak Adang adalah polisi yang baik. Tidak ada kesan arogan seperti polisi yang biasa saya temui di jalan. Niat untuk menolong, tetap dilakukan dalam koridor yang ada. Saya yakin seandainya dengan jabatan yang disandangnya saat itu dan mau digunakan untuk menekan Kapolda, yang notabene adalah anak buahnya, pastilah Kapolda akan menuruti perintahnya.

Ketika saya sempat berbicara dengan Tuza (putra keduanya) tentang bantuan yang diberikan pada saya, Tuza merasa heran. Aneh …! Tidak biasanya bokap bisa begitu. Gue yakin ini sejarah baru, dan gue baru sekali ini melihat bokap membantu kasus orang secara langsung.

Cerita di atas menunjukkan, Komjen Adang Daradjatun adalah pribadi yang tegas, tetapi menyenangkan. Dengan sosoknya yang low profile, banyak pihak sering salah menebak isi hatinya. Ketika gagal menduduki posisi Kapolri karena kalah bersaing dengan Komjen Soetanto, Pak Adang tetap murah senyum, tidak stress seperti pejabat-pejabat lain. Dan ketika saya iseng bertanya, Apa kekurangan Pak Adang hingga SBY tidak memilih Bapak jadi Kapolri, ternyata Pak Adang dengan enteng menjawab, Kekurangan saya cuma satu, bukan satu angkatan dengan SBY ha… ha… ha…

Sikap tersebut merupakan pelajaran bagi saya dan harus saya terapkan dalam hidup saya hari ini dan masa yang akan datang. Tetap rendah hati dan murah senyum ketika tidak berhasil mencapai tujuan. Roda hidup terus berputar. Tidak hanya polisi saja yang bisa pensiun, begitu pula saya sebagai artis. Kelak juga akan tergantikan. Kami telah sama-sama memasuki ruang yang membentangkan sejarah panjang kehidupan. Di dalam ruang sejarah Indonesia, nama kami telah dicatat. Maka catatan sejarah itu hendaknya tidak berhenti bergerak, kecuali maut yang menjadi terminal terakhir, menghentikannya. Hadapi segalanya dengan senyuman. Terus maju Jendral!

Rima Melati

Artis
Secarik Kesan Bagi Sahabat Mengenal sosok sederhana seorang Adang Daradjatun, untuk saya adalah suatu keistimewaan. Keluarganya saya kenal dekat, terutama tentu istrinya. Mereka sungguh sangat serasi.

Ketika diminta untuk memberi sedikit rasa hati untuk buku yang diterbitkan ini, saya merasa ingin mengatakan begitu banyak kebaikan mengenai Kang Adang, tapi saya khawatir nanti bukunya menjadi terlalu penuh.

Yang paling pasti Kang Adang (biarpun jauh lebih muda, tapi saya memanggilnya Kang karena saya respek padanya) orang yang dekat dengan Tuhan, tidak pernah meninggalkan ibadahnya, dan sangat mencintai pekerjaannya. Juga kepeduliannya terhadap korps-nya sangat tinggi Peduli pada teman, terutama memberikan bantuan pada yang membutuhkan, sangat rendah hati, mudah bergaul dan selalu memperhatikan keadaan sekitarnya.

Untuk kami, Kang Adang adalah contoh pribadi yang sederhana, tidak mementingkan diri sendi-ri, tidak arogan sebagai seorang Jenderal, atau seorang yang mempunyai jabatan tinggi. Saya sangat terkesan melihat kesederhanaannya dalam menjalani kehidupan sehari-harinya.

Semoga Kang Adang, Ceu Nunun beserta anak-cucu senantiasa dilindungi serta diberkahi, dan diberikan kesehatan dan umur panjang serta kesejahteraan berlimpah oleh Allah yang Maha Penyayang, serta penuh kuasa. Amin..

————————————————————————————-

Ops kebanyakan yah, hehe sory aja deh. oh ya bro kalo lo lo pada mau tau lebih jauh

komentar orang tentang bang adang liat aja di situs www.bangadang.com.

Oke deh. segitu dulu ye. Oh ya gw orang betawi asli loh coy, hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: