Archive for the ‘Films’ Category

Sebuah Kritik untuk Ayat-ayat Cinta The Movie..

Bagi kalian yang gemar membaca buku-buku ataupun novel-novel islami  tebtu tidak asing mendengar nama Asma Nadia, yah dia adalah salah satu penulis ulung yang dimiliki oleh Indonesia, melalui karya-karya tulisnya yang bemakna. Tulisan berikut ini adalah Pendapat Mbak Asma Nadia mengenai Film Aya-ayat Cinta.

________________________________________________________________

Alasan apa yang menggerakkan saya, yang selama ini amat sangat
selektif menonton film-film lokal, dengan suka rela menyaksikan
Ayat-ayat Cinta?

Bukan karena saya jatuh cinta pada novel itu. Sejujurnya agak sulit
buat saya menikmati novel Ayat-ayat Cinta, yang menurut hemat saya
tidak lebih dari kisah cinta biasa, yang dibumbui nilai islam. Poin
lebih novel itu bagi saya adalah setting yang disuguhkan dengan
meyakinkan oleh Habib, dan wawasan keislamannya.

Saya tidak terkesan dengan penokohannya yang cenderung seragam. Tidak
pula terkesan dengan alur yang bagi saya biasa saja itu. Saya sulit
menerima beberapa logika yang ada.

Tetapi saya ikut bahagia bahwa novel itu menjadi bukti keberhasilan
seorang penulis muslim, dari Forum Lingkar Pena. Habib, yang bagi saya
tidak ubahnya adik itu berhasil membuktikan bahwa novel Islam bisa
sangat komersil. Siapa bilang harus mengumbar ketidaksenonohan untuk
membuat novel anda dilirik tidak hanya pembaca dalam negeri? Siapa
bilang novel menjual ketidakpatutan untuk bisa difilmkan?

Setulus hati saya berbahagia dan mengucapkan selamat untuk Habib. Dan
sebagai bentuk solidaritas dan sayang saya pula, maka saya anggukan
kepala ketika malam itu, kakak saya mengajak saya untuk nonton bareng
AAC usai acara di library@senayan bersama Nasanti, Pritha dan Ari.

Saya tahu banyak yang pesimis pada usaha memfilmkan sebuah novel.
Don’t judge the book by its movie! itu yang sering dikatakan orang:)
Tetapi ada juga bisik2 yang sampai ke telinga saya, mengatakan film
ini ditangan Hanung Bramantyo akan lebih dahsyat dari novelnya,
“Menurut Hanung, ini merupakan karya terbaik dia,” kata seorang teman
lagi. Begitu saja optimisme menyeruak di kalangan sebagian orang.
Novel best seller ditangan sutradara ternama, siapa yang meragukan?

Dan di situlah saya, duduk bersisian dengan Pritha mencermati adegan
demi adegan dalam film AAC. Saya tahu pasti tidak mudah memeras novel
setebal AAC menjadi bahasa visual dengan durasi 2 jam lebih itu. Dan
mustahil menyuguhkan selengkap versi buku. Tetapi beberapa film
sebutlah Lord of The Ring, Harry Potter, PS. I love you dll, konon
meski tidak penuh mewakili setiap detil di filmnya, tetap mendapat
sambutan baik. Pendeknya penonton tidak kecewa karena bisa menikmati
versi filmnya. Bagaimana dengan AAC?

Film berjalan lambat. Ada sedikit adegan lucu di awal yang sempat
membuat beberapa penonton tersenyum. Tetapi setelahnya film mengalir
datar tanpa konflik yang membetot seluruh rasa penasaran dan emosi
saya sebagai penonton. AAC tidak ubahnya cinta segiempat beda negara,
Fahri yang orang Indonesia, dengan Maria Girgis tetangga satu flat
yang beragama Kristen Koptik, Fahri dengan Nurul-ah yang ini sama2
Indonesia, lalu Fahri dengan Noura (Mesir), dan terakhir Fahri dengan
Aisha (German).

Menyaksikan cast satu-satu pemain, saya mulai merasa tidak kuat. Saya
merasa usaha sutradara untuk ‘membohongi’ saya dengan film ini
benar-benar keterlaluan. Bagaimana saya bisa memercayai bahwa Surya
Saputra sebagai orang German? Sementara sosoknya (bukan sekadar
berkulit putih ya…) kental di ingatan saya sebagai pemain film
Indonesia. Saya menolak memercayai Zaskia Mecca sebagai orang Mesir,
saya tidak bisa menerima Marini sebagai orang Mesir. Banyak lagi cacat
dari segi casting ini… Sutradara menempatkan pemain2 yang sudah
dikenal baik di Indonesia dan berupaya ‘memalsukan’ mereka, tidak
ubahnya sandiwara-sandiwara atau film-film zaman dulu di mana yang
berperan sebagai tentara Belanda adalah pemain dengan tampang
Indonesia juga. Parahnya pemeran yang dipilih punya sosok yang kadung
kuat di ingatan penonton.

Batin saya tersiksa menyaksikan pertemuan Fahri dengan Aisha di
kereta. Ketika seorang penumpang (ceritanya dia ‘orang mesir’) nyaris
berkelahi dengan Fahri dan menyebut, “Ya Indonesia!”
atau adegan lain ketika Fahri di penjara… di mana seorang dengan
tampang jelas2 Indonesia, bicara dengan bahasa Indonesia, tetapi
berperan sebagai bukan orang Indonesia, dan menyebut Fahri dengan
“Indonesia!”
Jeruk kok minum jeruk… begitulah perasaan saya.

Bagaimana dengan sosok Fedi Nurul sebagai Fahri? Dalam salah satu blog
saya membaca alasan utama Mas Hanung memilih Fedi: Fahri bukan lelaki
sempurna. Tapi yang membuat Fahri tampak sempurna karena dia sadar
bahwa dirinya tidak sempurna.”

Tapi Fahri versi Hanung Bramantyo tidak membuat saya teryakinkan bahwa
laki2 itu telah menjadi sumber patah hati akut hingga depresi begitu
banyak gadis. saya tidak jatuh cinta bahkan tidak juga bisa sekadar
menerima alasan kenapa para gadis itu sedemikian terobsesinya pada si
Fahri ini?

Perlu seseorang yang sangat amat kuat untuk memerankan Fahri hingga
penonton teryakinkan. Fahri di sini makin lama makin cengeng… Cara
berdirinya, caranya memandang, terutama cara membantahnya terhadap
Aisha, yang lebih terlihat sebagai gerutuan anak kecil kepada ibunya,
ketimbang protes atau nasihat seorang suami kepada istrinya (adegan
makan bersama dengan Aisha, Maria, dan ibunya dengan Fahri, adegan
laptop, pertengkaran ketika keluarga Nurul datang).

Logika cerita?
Nggak kalah kacaunya.
Proses menemukan Noura yang sudah setidaknya belasan atau bahkan 20
tahunan tertukar dari orang tua asli, terjadi secepat kilat. Pertama
Fahri meminta tolong seseorang, kemudian sim salabim… tanpa ada
proses yang terlihat (make a call perhaps? atau sedikit kesibukan lain
sebagai upaya pencarian?) adegan berikutnya adalah Noura bertemu
dengan orang tua kandungnya.

Adegan Fahri berta’aruf dengan Aisha pun sulit diterima logika.
Bagaimana bisa Fahri yang selama ini saleh dan memiliki konsep tentang
soul mate (jodoh) yang sedemikian, juga wawasan keislaman yang mantap,
dan karenanya belum juga menikah itu, dengan mudah memutuskan menikahi
Aisha hanya beberapa detik setelah Fahri memandang dengan tidak
berkedip wajah Aisha setelah membuka cadarnya… Yang membuat saya
membatin: fisik sekali… alasan Fahri menikahi Aisha! Tidak ada
diskusi, atau surat2an atau upaya mencari tahu dari pihak lain, yang
membuat Fahri mengenal cara pandang, kecerdasan, kelebihan2 lain dari
Aisha kecuali beberapa pertemuan singkat yang tidak membahas hal2 yang
esensi (Aisha jatuh cinta pada wawasan Fahri, oklah ada bbrp
lanjaran.. tetapi sebaliknya? Begitu mudah?).

Yang lebih meletihkan adalah adegan yang sebagian besar indoor, yang
benar2 membunuh justru kelebihan utama dari novel ini: setting.
Sia-sia berharap bisa melihat keindahan sungai Nil, dan Mesir.
Sekalinya ada adegan outdoor, jauh dari romantis malah terkesan norak
habis, adalah adegan Fahri berboncengan unta dengan Aisha di padang pasir.

Kekacauan logika lain, yang terlihat amat dipaksakan adalah permintaan
Aisha agar Fahri menikahi Maria yang terbaring koma. Fahri yang tidak
punya pendirian itu pun (utk orang secerdas dan sebagus itu pemahaman
islamnya, gitu lho:P) menurut, hanya sedikit menyampaikan bantahan
yang tidak meyakinkan. Btw terlihat dari awal pernikahan dengan Aisha
di mata saya Fahri terlihat tak ubahnya suami-suami takut istri:P

Dan ajaib, kunjungan sekali Fahri dan pernikahan kilat yang dilakukan
ketika Maria sedang koma, pun membangunan Maria dari koma panjangnya.
Sungguh luar biasa!

Secara keseluruhan, film AAC jauh dari proporsional. Di bagian
awal-awal yang tanpa konflik mendapat porsi lebih dari yang
seharusnya. Sementara adegan penting di mana konflik dimulai (tuduhan
terhadap Fahri) dan penyelesaiannya kurang mendapat porsi, hingga
meninggalkan ketidakjelasan di beberapa bagian.

Menonton AAC memberikan saya penderitaan yang tidak usai bahkan ketika
kami meninggalkan bioskop, dan berkendaraan pulang. Mungkin karena
sosok Fahri yang kurang meyakinkan itu lagi, saya sulit menerima
potret perempuan yang ditampilkan. Satu perempuan yang terobsesi dan
depresi karena cinta tidak bersambut, okelah. Tapi tiga??? Satu lagi,
saya tidak melihat ada penggambaran usaha Fahri mencari nafkah, selain
hanya disebutkan dalam kalimat sekilas (Penonton diberitahu, tidak
‘ditunjukkan’ ). ketidakterlibatan keluarga Aisha yang kaya ketika
Fahri dipenjara, juga sulit diterima, apalagi Fahri terancam hukuman
mati. momen yang rasanya amat membutuhkan dukungan keluarga.

yang saya tidak mengerti kenapa persoalan teknis (perpindahan adegan)
dan editing terasa kasar? Kalah oleh film2 Indonesia yang lain.
Sesuatu yang seharusnya tidak terjadi dalam film besutan sutradara
sekelas Hanung Bramantyo.

Terakhir, dengan sebegitu banyak cacat yang membuat film AAC menjadi
kisah cinta klise yang membosankan, adakah kebagusan film ini?
Ada, salah satunya soundtrack film.
Apalagi?
Ah, beberapa penonton perempuan cukup mengejutkan kami berenam karena
mereka ternyata menangis. Tentu saja saya tidak boleh berprasangka
buruk bahwa mereka menangis karena sama tersiksanya seperti saya:).
Seperti kata seorang teman, “Bisa jadi film itu memang cukup memadai
buat sebagian penonton, tahu sendiri selera sebagian besar penonton
Indonesia… bisa diukur dari sinetron-sinetron di tivi. Film AAC
memang dibuat bukan untuk penonton macam ‘kita'”, katanya.

Bagaimanapun ada beberapa pesan al. ketidakberpihakan Habib pada
poligami tertangkap cukup jelas. lainnya AAC jelas jauh lebih sehat
dari film2 hantu belakangan ini yang cuma mencari efek menakutkan
penonton dan tidak berisi.

Maafkan kejujuran saya jika menyinggung beberapa pihak. Tapi bentuk
sayang dan peduli saya kira tidak melulu diekspresikan hanya dengan
pujian. Kritik selalu perlu agar kita, bisa memproses diri menjadi
lebih baik.

-asma nadia
http://anadia.multiply.com

Advertisements

Fenomena Ayat-yat cinta…

Tulisan ini saya ambil dari tulisan seorang teman SMA yang sekarang sedang studi di Unair sebuah milis:
Udah pada tahu kan fenomena FILM ayat-ayat cinta. Menurut pandangan
KITA (Pandangan Anak Rohis) lho!! Maksud ana (Ana<Bahasa Arab> berati ‘aku’ dalam bahasa Indonesia) gini…

Suatu hari, ada sms dari temen ana yang bunyinya:
“Assalamualaikum. Ukhti, ada acara di ITS dengan pembicara Salim A
Fillah dan Habiburrahman, . Kalo mau ikut, tiketnya nitip aku aja.”

Salim A Fillah??? Wuih, kapan lagi bisa ketemu sama ni orang.
(kebetulan udah ngoleksi and baca semua bukunya nih (kecuali yang
terakhir ci.hehehe). Jadi waktu tahu kayak gitu. Wihhhh mau
banget.Tiketnya berapa juga mau beli (lebay ya?hehehe)

Apalagi, plus habbiburahman. mmmmmm..

Akhirnya, jadwal ke Surabaya yang harusnya hari minggu, dimajuin jadi
hari jumat.

TENTANG FILMNYA

waktu ana emaren pulang, kebetulan waktu ngeliat klipnya Rossa yang
ayat-ayat cinta, wihhhhh pengen banget nonton filmnya.
Pengeeeeeeeeeeeeeen banget. kebetulan emang ana nggak pernah ngeliat
tuh video klip sebelumnya, karena kalo di sby males nonton TV, daripada
rebutan ma mba kos yang suka sinetron.

Tapi, waktu ngeliat ringkasan filmnya yang dibahas majalah GENNiE, di
salah satu stasiun TV, muka ana yang mula-mula semangat, tiba-tiba
pucet dan tiba-tiba lemes. Ternyata yang di video klip rossa sama yang
dibahas habis-habisan di sini, jadi ana bisa liat sebagian filmnya, itu
membuat Illl feeeeeellll. Akhirnya, yang tadinya semangat, jadi luemes
dan males nontonnya.

KATA KANG ABIB DI ITS

Waktu ada yang nanya kenapa filmnya beda sama novelnya, kang abib
bilang gini:

“Untuk mencapai kesempurnaan, pasti kan ada tahapan-tahapannya. ”

TOKOH FAHRI?
Kata beliau, kalau kita nonton filmnya, yang penting jangan
menghilangkan karakter fahri yang ada di novel

tapi beliau nggak mau bahas lebih jauh, soalnya ada waktunya, yaitu
hari itu juga jam setengah 8 malem di FISIP UNAIR, yang bahas tentang
bedah filmnya.

DAN BELIAU BERJANJI, UNTUK NOVEL “KETIKA CINTA BERTASBIH” YANG AKAN
DIFILMKAN, BELIAU AKAN LEBIH KETAT LAGI DALAM MENANDATANGANI MOU

BELIAU BAHKAN MENANTANG BAHWA ADK ITS UNTUK MENGAJUKAN 3NAMA IKHWAN DAN
3 NAMA AKHWAT UNTUK MENJADI TOKOH-TOKOH DALAM FILM ITU.

BELIAU BILANG,”SERIUS! SAYA II SERIUS! SAYA BENAR-BENAR MINTA 3 NAMA!”

Ya, kita berharap aja semoga film berikutnya yang mengundang senyum
miris.

Tanya Jawab seputar Ayat-ayat cinta, The Movie…

Berikut ini saya paparkan sebuah tanya jawab mengenai Film Ayat-cinta, sebuah film yang banyak dinantikan khalayak ramai.

Sumber eramuslim.com

Assalamualaikum wr.wb

Yang saya hormati bpk ust. H. ahmad sarwat, Lc yang semoga dimulyakan Allah…

Menyikapi masalah film ayat-ayat cinta yang sekarang sedang booming yang diangkat dari novel ayat-ayat cinta pada awalnya saya tidak punya penilaian apa-apa tentang film tersebut tapi setelah saya buka situs berikut :

http://tanfidz.wordpress.com/2008/02/23/film-ayat-ayat-cinta-lebih-berbahaya-dari film-maksiat-sebuah-analisa-dari-ustad-lukaman

Sungguh membuat saya heran dengan kapasitas pengetahuan saya yang kurang tentang film tersebut.

Tolong kepada bapak ustad memberikan saran atau pendapat tentang masalah ini karena kalu memang benar saya berencana menjadikan topik tersebut dibahas dalam forum pemuda-pemudi Islam…diwilayah saya…sebelumnya terimaksih saya mohon jawaban secepatnya dari bapak ustad agar masalah ini dapat diselesaikan dengan cepat pula…

Wassalamualaikum wr. wb

Asep Buqhari Al-fahrizy

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Setiap kali ada film yang mengangkat tema Islam atau dakwah, biasanya memang selalu diiringi dengan kontroversi di kalangan umat Islam sendiri.

Kontroversi itu bisa dilatar-belakangi karena cara pandang umat Islam memang berbeda-beda tentang hukum dan manfaat film untuk dakwah, namun terkadang ‘kesalahan’ memang terletak dari si pembuat film.

Untuk kasus kontroversi hukum film dalam pandangan agama ISlam, contoh kasusnya adalah film The Message karya Mustafa Aqqad. Perdebatan terjadi antara kalangan sufi dan bukan sufi. Kalangan ‘sufi’ (suka film) dari umat Islam memandang film ini bagus dan fenomenal dan layak dijadikan film dakwah yang ideal.

Sebaliknya, kalangan bukan ‘sufi’ yaitu kalangan ‘tifi’ alias anti film, karena sejak awal memang tidak suka film, tetap saja mereka tidak suka. Meski sudah sangat menggambarkan bagaimana hebatnya perjuangan umat Islam. Dan mereka tidak pernah kehabisan akal untuk mencacat sebuah film yang digelari film dakwah.

Dan itulah yang menyebabkan film The Message gagal shuting di Maroko lalu pindah ke Libya. Konon para ulama di negeri Maroko berdemo dan berfatwa bahwa haram hukumnya memfilmkan nabi Muhammad SAW dan para shahabatnya. Fatwa itu konon menyebar di dunia Islam, sehingga menurut cerita dari para pengamat film, penjualan film itu di Timur Tengah malah anjlok alias rugi.

Sebaliknya, di Barat tempat film itu diproduksi, konon cukup fenomenal baik dari segi penjualan dan juga penyebaran dakwah. Sosok Muhammad SAW yang selama ini dilecehkan, perlahan-lahan dapat dikembalikan dan ditempatkan sesuai posisinya.

Kesimpulan sederhananya, orang Arab (Timur Tengah) adalah anti film, jadi percuma berdakwah kepada mereka dengan menggunakan film. Belum apa-apa mereka sudah bikin fatwa sesat dan haram, tanpa pernah melihat filmnya. Pokoknya masuk bioskop saja sudah haram, biarpun filmnya dari awal hingga akhir isinya hanya kumpulan rekaman ceramah.

Mulai dari antri tiket, sampai urusan campur baur laki-laki dan perempuan di dalam ruang theater, sampai pemain filmnya ada yang perempuan dan seterusnya, semua akan dijadikan dasar keharaman sebuah film dan bioskop. Dan itu buat mereka adalah harga mati.

Kalangan Suka Film

Sebaliknya, buat umat Islam yang pada dasarnya sudah suka film, kecenderungan mereka selalu memandang positif bila ada film yang sedikit saja agak tidak terlalu hedonis. Bahkan meski sama sekali bukan film dakwah atau agama.

Film-film yang bersifat humanis, penegakan keadilan, atau yang berlatar belakang sejarah, cinta yang murni dan sejenisnya, mereka masukkan ke dalam daftar film layak tonton. Apalagi bila film itusudah bicara tentang agama Islam, atau pelajar Indonesia yang kuliah di Cairo, tentu buat mereka sudah lebih dari cukup layak untuk ditonton.

Dan hujjah mereka pun sudah sering kita dengar. Misalnya, mereka mengatakan bahwa yang perlu mendapat siraman dakwah itu bukan hanya jamaah masjid saja, tapi mereka yang tiap hari kerjanya nonton film, kalau dibuatkan film yang lain dari biasanya, akan tetap bermanfaat bagi mereka.

Setidaknya film yang agak kental mengangkat masalah agama seperti itu, untuk kapasitas dunia film yang selama ini melulu hedonis dan materialis, bahkan cenderung pornografis, makaharus ditanggapi positif, bukan malah dicela atau dimaki. Juga jangan dibilang lebih berbahaya dari film porno.

Buat mereka, cara pandang seperti ini adalah cara pandang pesimistis, bahkan cenderung nihilis. Tidak berpihak kepada realita bahwa sebagian besar masyarakat itu sufi, alias suka (nonton) film.

Mengharamkan film sama saja mengharamkan televisi. Tapi mereka yang mengharamkan televisi tetap saja tidak mendirikan sendiri sebuah stasiun televisi tandingan yang ideal sesuai dengan selera mereka. Jadi masih terbatas baru bisa mengharamkan, tanpa bisa memberikan solusi.

Kekurangan Pembuat Film

Pembuatan film bertema dakwah memang agak unik dan bikin pusing, apalagi kalau film itu dikerjakan oleh mereka yang kurang banyak berkecimpung di dunia dakwah.

Boleh jadi dakwahnya malah menjadi sekedar pemanis, atau orang bilang ‘manis-manis jambu’. Atau yang paling apes, dakwahnya malah kalah dengan masalah lainnya, seperti masalah cinta dan seterusnya. Film-film Rhoma Irama misalnya, seringkali terkotori dengan tema cinta agak vulgar, meski kemudian agak lebih dikoreksi.

Tapi di awal-awal produksinya, film-film itu malah menggambarkan pacaran, berduaan, berpelukan lain jenis yang bukan mahram, walau pun bintangnya fasih mengutip ayat-ayat Quran. Ini kan malah jadi kontradiksi dan sangat mengganggu, setidaknya buat mereka yang sudah punya wawasan agama lebih dalam.

Mungkin akan lain ceritanya kalau film itu digarap oleh tokoh sekelas Deddy Mizwar yang memang konsern terhadap dunia dakwah. Meski tidak sepi dari kritik, namun beberapa film besutan pak haji ini banyak yang memujinya.

Ayat ayat Cinta Tidak Islami?

Orang yang pernah baca novel karya Habiburrahman ini, lalu nonton filmnya, akan berkomentar bahwa film itu tidak Islami. Lho kok tidak Islami?

Wah, jangan tanya saya, tapi tanya saja kepada yang bilang ungkapan itu. Dan yang bilang begitu bukan siapa-siapa, tapi sutradaranya sendiri, si Hanung. Jadi sejak awal si sutradara sudah mengaku bahwa filmnya ini tidak Islami.

Jadi itu saja sudah cukup untuk dijadikan sebuah penilaian, tanpa harus diskusi panjang-panjang. Lha wong yang bikin film itu saja sudah bilang bahwa filmnya tidak Islami. Masak kita mau paksa bilang bahwa itu adalah film Islami?

Begitu banyak memang reduksi dari novel yang sarat isitlah syariah, ketika jadi film malah hilang begitu saja, dibuang oleh pembuat film. Sehingga begitu banyak pesan agama malah raib, berganti dengan adegan konyol, aneh dan memang tidak Islami. Dan itu sejak awal sudah diakui oleh si pembuat film.

Kami tidak tahu apa reaksi akhinal fadhil Habiburrahman tentang film ini. Silahkan tanya beliau.Tapi memang sangat beda antara apa yang ditulis oleh seorang lulusan Al-Azhar dalam novelnya dengan hasil besutan orang film yang bukan lulusan fakultas syariah. Nuansa dan touch-nya beda banget.

Terlambat Tayang Karena Dianggap Mempengaruhi Keimanan Agama Lain

Yang menarik dari berita tentang kenapa film ini terlambat ditayangkan, konon ada ganjalan di LSF. Lembaga ini mengatakan bahwa film ini dikhawatirkan akan mempengaruhi keyakinan agama lain, karena ada tokohnya yang beragama kristen tapi suka dengan Al-Quran.

Aneh juga memang, biasanya LFS meloloskan semua materi film yang melecehkan agama, seperti pornografi, pelecehan seksual, kekerasan sampai lesibianisme dan homoseksual. Tapi giliran ada film yang mengangkat masalah agama Islam, tiba-tiba bisa gagah untuk menghalangi.

Kira-kira ada apa ya dengan lembaga yang satu ini, sehingga bisa kayak Amerika yang punya standar ganda?

Lokasi Mesir

Lepas dari kontroversi apakah film ini Islami atau tidak Islami, tapi sebagai orang yang pernah ke Mesir dan bahkan lahir di Mesir, film ini menurut hemat kami kurang bisa menampilkan setting kejadian yang sebagian besar di Mesir.

Ketika baca novelnya, suasana Mesir dan orang-rang serta kebudayaan dan kebiasaan mereak sangat kental. Wajar, karena Habiburrahman kuliah di sana beberapa tahun.

Tapi ketika divisualisasikan, mulai dari yang bikin film, yang main, bahkan para team kreatifnya, mungkin malah belum pernah tinggal di Mesir. Jadi kalau kesan ‘bukan Mesir’ nya terlalu menonjol, sejak awal memang sudah bisa ditebak. India dan Mesir kan tetap berbeda, biar bagaimana pun juga.

Ketika dahulu produksi film itu belum masih belum memutuskan siapa yang jadi sutradara, mas Chaerul Umam pernah bilang bahwa beliau sempat ditawarkan. Kami katakan kepada beliau, “Mas, kalau memang jadi membuat film itu, mbok sampeyan nyantri dulu di Mesir barang tiga bulan, biar bisa tahu persis bagaimana khas kehidupan di sana.”

Dan permintaan itu sudah dijadikan syarat oleh penulis novelnya, agar lokasi syuting harus di Mesir betulan.Namun sayangnya, sutradara film itu, Hanung, katanya’diperas’ oleh PH di Mesir, sehingga cita-cita mengangkat suasana kota Cairo dalam film ini jadi gatot alias gagal total.

Walhasil, dari sudut pandang ini, film itu kurang mengangkat ke-Mesiran-nya, Tapi apa itu penting buat penonton di negeri ini?

Wallahu a’lam bishsawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Ayat-ayat Cinta, The Movie

Tentu sebagian dari lho, bener2 penasaran ama ni film. Film yang waktunya terus ditunda di bioskop ini , menurut gw dan beberapa teman gw , ternyata gak sebagus yang di gembor2kan.

Kok gw bisa ngomong gitu? mau tau? hehe sebelum film nya di tayangin di bioskop tanggal 28 Februari 2008, gw dah punya filmnya duluan. Ini bener2 film aslinya loh, bukan trailer.

Total file film ini (yang ada di komputer gw) adalah sebesar 1.12 GB.

Ada beberapa adegan penting yang aa di novel nya tapi gak ditayangin. pokoknya kalo lo dah pada baca novel aslinya, gw yakin pasti pada kecewa berat ma nih film, yah bukan apa-apa ya. Gw bener2 gak dapat feel nya , kurang bisa nangkep isinya, udah gitu adegannya terlalu cepat.

Dan komentar ini bukan hanya dari gw, tapi juga dari teman2 gw, dan hampir semua yang gw tanya, mereka menyatakan kekecewaannya atas film ini.

Perbandingan isi dari novel aslinya dan filmnya beda jauhhhh. Tanpa mengurangi rasa hormat dan simpati atas pembuat film ini, gw dan teman2 gw sepakat buat ngasih nilai 4 (dari rating 1-10),hehe emang sih ini pendapat pribadi, tapi setidaknya ini adalah suara salah satu konsumen film ini.

Oh ya, mau tau tempat download ayat-ayat cinta the movie?

NB (Nambah Bacaan): Ini adalah komentar pribadi saya, setiap orang mungkin berbeda pendapat. Bagaimanapun juga, jika anda ingin mendapat hasil yang lebih bagus, lebih baik anda nonton aja langsung di bioskop, kali aja feelnya dapet, dan filmnya dapat menyentuh untuk mengetahui apa arti cinta yang sesungguhnya dalam Agam Islam.

Avatar Book 3 Dah Keluar ooy….

Yuhuuu akhirnya avatar book 3 keluar juga, hehe gw sih abis iseng2 buka mirrornya UGM,eh tau nya gw nemu film avatar book 3 yang fire,hehe langsung deh gw download. Duh akhirnya setelah lama gw menunggu akhirnya keluar juga. Seneng dehhhh ;-),hoho.

avatar_s3v1.jpg

Bagi kalian yang suka bgt ma film avatar pasti penasaran kan ngikutin perkembangannya, oke deh nih gw kasih linknya,hehe gw kan baik (wah narsis gw keluar,gawattttsss).

Lo bisa download avatar book 3 di link http://info.ugm.ac.id/software/windows/Avatar

avatar.jpg

Avatar The last airbender book 3…

Duh langsung deh gak banyak cing..cong… Hehe semalam akhirnya kelar juga deh nonton DVD Avatar sampe book 2. Hmm belum tamat sih, tapi kata temen2 gw avatar baru sampe book 2, duh penasaran nih gw.

 avatar2.jpg

avatar1.jpg

Apalagi yang pas Aang bisa mencapai kebesaran avatar (hmm tentunya harus bisa melupakan si cantik katara dong..), tapi sayang pas jadi avatar beneran(heehe emangnya boongan apa?) dah keburu diserang duluan ama si licik Azula, hmm gak jadi deh akhirnya, nah pas bagian terakhir ini si zuko9yang katanya mau tobat, malah ingkar janji(dasar pangeran begooo, hehehe)dan mengkhianati pamannyasendiri yang padahal baik bgt ma zuko.

Dan akhirnya …hmm belum akhirnya sih kan masih ada book 3 :Fire, tapi kapan ya keluarnya? penasaraaaaaaaaaaaaaaaann nih…..avatar3.jpg

Download Film gila-gilaan….

WAW GILA BGT, yah memang itulah kata yang ada dipikiran gw, bayangin gw download(hmm lebih tepatnya ngopi dari jaringan lokal di warnet tempat gw main, dan warnetnya adalah warnet yang pernah gw bilang rese(baca di artikel gw sebelum-sebelumnya).

Tau gak gw ngopi/download film di warnet ini sebanyak 20 FILM, semuanya film asli loh, satu lagi yang gw suka semuanya original, wah gw ngopi banyak bgt, mulai dari film indonesia, barat, india, ampe kartun. Belum lagi ditambah video klip plus mp3 yang lain, wah yang dulu gw bilang rese, sekarang jadi keren deh. hehe. Diantara film yang gw copy adalah X men, Doraemon, Naruto, dan 17 film lainnya gak mungkin kan gw tulis semua. Wah untung besar nih gw, hehe untung gw bawa hardisk eksternal dengan kapasitas 80 GB, hehe otomatis dong gw “rampok” tuh film.Hehehe asik bgt mannnn.

Dah dulu ahhh, kayanya ni malem adalah saat yang tepat “menikmati hidangan” dari film2 yang gw download.hehehe.

Asyiiiiiiikkkkkkkkkk.